J U S T - F O R - C L I K
hanya untuk di klik saja...
Sampai kapan Negeri ini dilanda bencana?

Musibah memang bisa terjadi kapan saja, menimpa satu orang atau lebih banyak orang. Musibah bisa terjadi karena bencana alami dan musibah bisa terjadi karena kesalahan, apakah itu kesalahan manusia sebagai individu atau kesalahan sistem yang diabaikan oleh manusianya. Banyak orang bertanya-tanya: Kenapa bangsa kita berturut-turut mengalami musibah bencana alam yang silih berganti? Wallahu a`lam.. perlu kita ketahui bencana alam itu tidak membuat kita makin menjauh dari Allah SWT, tapi justru membuat kita makin mendekat kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, dan melakukan introspeksi atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan bertanya kepada diri sendiri, apakah telah berbuat sesuatu yang melanggar perintah-Nya?
Kita harus mengingat bahwa azab Allah sangatlah pedih. Untuk itu, tidak ada gunanya kita sombong di bumi Allah ini dengan selalu berbuat maksiyat. sering kita di hadapkan pada bencana alam. Kita tidak punya daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah. Kita tidak punya harapan apapun kecuali dengan menggantungkan diri kita pada kasih sayang Allah. Untuk itu, berbenahlah kita dalam memperbaiki diri kita.

Anda Boleh percaya boleh tidak... Musibah fenomena di tahun 2007 ini penuh teka teki.. aneh tapi nyata..dimulai dari tanggal: 01/01 ( 01 Januari ) adam air/km senopati 02/02 ( 02 Februari ) jakarta banjir 22/02 ( 22 Februari ) Levina I 03/03 ( 03 Maret ) Longsor NTT ANEH YA? SEMUANYA TANGGAL KEMBAR.. DAN INI LEBIH SPEKTAKULER. . 07 / 03 / 07 PESAWAT GARUDA BOEING '737' Terbakar di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Sampai kapan negeri ini terus menerus dilanda bencana? Wallahu a'lamu..
"Kiamat Sudah Dekat"
dikutip dari blog tetangga ini

Kiamat bagi sebagian orang adalah peristiwa magis cenderung komikal, melibatkan naga berkepala tujuh atau jembatan dari rambut dibelah tujuh. Peristiwa ini merupakan intervensi pihak eksternal, yakni Tuhan, yang akan datang menghakimi manusia di hari yang tak terduga.
Lalu, jika tiba peristiwa alam yang meluluhlantakkan sebagian besar Bumi sebelah utara, melenyapkan sebagian besar Eropa, menihilkan kehidupan di Rusia, merusak berat Australia, Jepang, dan menenggelamkan pesisir pantai dunia hingga 6 meter, menciutkan populasi Bumi sekurangnya dua puluh persen, lalu membiarkan sisanya dicengkeram iklim ekstrem dan kekacauan global, akankah ini cukup untuk sebuah definisi hari kiamat?


Saya terusik ketika membaca buku Graham Hancock “Fingerprints of the Gods”. Dengan bukti-bukti yang ia kompilasi dari peradaban kuno Aztec, Maya, Hopi, dan Mesir, Hancock menemukan jejak peradaban yang kecanggihannya melebihi peradaban modern hari ini, tapi hilang sekitar 10,000 tahun SM oleh sebuah bencana katastrofik yang mengempaskan ras manusia kembali ke Zaman Batu. Bukti geologis pun mendukung bahwa Bumi telah beberapa kali mengalami climate shift.


Suku Maya sangat obsesif terhadap hari kiamat. Mereka percaya lima siklus kehidupan (atau ‘matahari’) telah terjadi. Dan sistem canggih kalendar mereka (Hancock meyakininya sebagai warisan dan bukan temuan) menghasilkan perhitungan bahwa matahari ke-5 (Tonatiuh), yakni zaman kita sekarang, berlangsung 5125 tahun dan berakhir pada tanggal 23 Desember 2012 AD. Sementara itu, peradaban Mesir Kuno menghitung siklus axial Bumi terhadap kedua belas rasi bintang. Siklus yang totalnya 25,920 tahun ini bergeser teratur, masing-masing 2160 tahun untuk tiap rasi. Posisi kita sekarang, rasi Pisces, telah menuju penghabisan, segera bertransisi ke Aquarius diikuti pergolakan dahsyat.


Dengan pendekatan yang lebih esoterik, Gregg Braden dalam bukunya “Awakening to Zero Point” meninjau fenomena polar shifting, yakni bertukarnya Kutub Utara dan Kutub Selatan yang ditandai oleh melemahnya intensitas medan magnet Bumi – tercatat sudah turun sebanyak 38% dibandingkan 2000 tahun lalu dan dipercaya akan sampai ke titik nol sekitar tahun 2030 AD. Fenomena alam ini sudah 14 kali terjadi dalam kurun waktu 4,5 juta tahun.Di luar dari kontroversi saintifik soal teori Hancock dan Braden, sukar untuk disangkal bahwa Bumi kita memang tak lagi sama. Badai kategori 4 dan 5 jumlahnya berlipat ganda dalam 30 tahun terakhir, es yang cair di Greenland berlipat ganda dalam 10 tahun terakhir, El Nino, La Nina, tsunami Asia, badai Katrina di Amerika Serikat, dan entah apa lagi yang akan kita hadapi.

Namun pemahaman kita merangkak lamban seperti siput dibandingkan alam yang bagai kuda mengamuk. Isu pemanasan global membutuhkan satu dekade lebih untuk diakui para skeptis dan birokrat. Di Indonesia, sumber energi alternatif baru ramai dibahas setelah harga BBM melonjak, setelah bangsa ini telanjur ketergantungan minyak. Isu pengolahan sampah dapur hanya sampai taraf bisik-bisik, itupun setelah gunung sampah longsor dan memakan korban. Selain upaya kalangan industri yang dirugikan oleh turunnya konsumsi energi fosil, lambannya respons kita juga disebabkan perkembangan sains ke pecahan-pecahan spesialiasi hingga fenomena yang tersebar acak jarang diintegrasikan menjadi satu gambaran utuh, dan tanpa sebuah model analisa yang sanggup menunjuk satu tanggal pasti, bencana katastrofik ini hanya menjadi wacana spekulatif. Sekarang ini bisa dibilang kita dibanjiri data dan gejala tanpa sebuah kerangka diagnosa.


Pengetahuan kita tentang akhir dunia pun stagnan dalam kerangka mitos biblikal yang sulit dikorelasikan dengan efek panjang kebakaran hutan atau eksploitasi alam, hingga lazimlah jika orang beribadah jungkir-balik demi mengantasipasi hari penghakiman tapi terus membuang sampahnya sembarangan. Untuk itu dibutuhkan pemahaman akan bahaya dari pemanasan global, dan tindakan nyata untuk meresponsnya dengan urgensi skala hari kiamat.
Ada tidaknya hubungan knalpot mobil kita dengan cairnya es di kutub, bukankah kualitas udara yang baik berefek positif bagi semua? Lupakan plang ‘Sayangilah Lingkungan’. Kita telah sampai pada era tindakan nyata. Banyak hal kecil yang bisa kita lakukan dari rumah tanpa perlu menunggu siapa-siapa. Perubahan gaya hidup adalah tabungan waktu kita, demi peradaban, demi yang kita cinta.


Kita bisa memilih untuk pasrah dan pasif, seperti katak yang diam dalam air yang tengah dijerang. Saat gelembung didih merubung, sudah terlambat baginya untuk melompat. Namun bila kita curiga bahwa sesungguhnya kita dan Bumi adalah satu, dan Bumi yang meradang ini dapat menjadi titik balik bagi bersatu-padunya ras manusia untuk bertindak demi eksistensi bersama, kejarlah kecurigaan itu. Galilah terus. Buka telinga dan mata. Berbuatlah sesuatu.

kata mereka ...
"Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui"

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama”

"Kita ada di sini bukan untuk saling bersaing. Kita ada di sini untuk saling melengkapi"

"Tutup mata hatimu dari kebencian, jangan selalu gelisah, hiduplah dengan kesederhanaan, pengeluaran yang terbatas, memberi yang banyak, selalu bernyanyi, selalu berdo'a, lupakan masa lalu...selalu berpikir dengan perasaan, beri perasaan hatimu dengan cinta seperti matahari yang akan terbit...semua itu merupakan lingkaran emas dari kehidupan yang pasti akan berhasil."

"Janganlah merasa terlalu kecewa, tetapi jalanilah hidup setiap saat dengan sepenuh hati kamu. Apapun yang mesti kamu lakukan, lakukan dengan kebaktian penuh. Miliki iman pada Tuhan dan rencana agung seluruh alam semesta."

"Ingin mengetahui Anda ada kemajuan atau tidak, cukup melihat perubahan watak diri Anda, keluasan wawasan Anda dan pengembangan kemurahan hati Anda. Itulah kemajuan dan tingkat Anda sesungguhnya."

"Kerjakanlah sesuatu secara tulus dan wajar, dan segalanya akan baik. Kesempurnaan terletak pada motivasi kerja, bukan pada pekerjaan."

Menunggu sangatlah mengesalkan, membosankan dan menggelisahkan. Meskipun duduk dalam mobil mewah dan cukup makanan. Apalagi ulahnya orang pemalas. Yang seumur-umur hanya menunggu waktu yang tidak kunjung berakhir.

Mendidik bukan hanya dengan nasihat saja.
Sebab yang menjadi sukses adalah memberikan contoh dengan perbuatan yang baik.
Sesuai dengan apa yang dikatakannya.
Jangan lain di kata lain di perbuatan.

Semua yang ada di sekitar kita, meskipun tinggi nilainya, tidak ada artinya sama sekali.
Tampaknya seakan semua gersang, jika kita terjangkit penyakit bosan.